PERTEMUAN XVI
KALIMAT TURUNAN
PLURAL BERTINGKAT
(MAJEMUK BERTINGKAT)
D. RINGKASAN
MATERI
Jadi, dalam kalimat turunan plural bertingkat, selain terdapat klausa atasan,
yang biasa dikenal dengan istilah klausa
induk, klausa inti, klausa utama, atau klausa matriks, terdapat pula klausa bawahan, yang diistilahkan pula
dengan klausa semat(-an) atau klausa subordinatif.
Klausa induk
selalu merupakan klausa “atasan”
bagi klausa bawahan yang
bergantung kepadanya. Tetapi, tidak
setiap klausa atasan merupakan klausa induk. Misalnya, dalam konstruksi {Karena
Sri baru pulang {sesudah tugasnya selesai}} {dia tidak dapat menghadiri rapat}
ada tiga “tingkat”: klausa paling atas (dia
tidak dapat menghadiri rapat) adalah klausa induk, tetapi klausa karena Sri baru pulang meskipun merupakan klausa atasan terhadap
klausa bawahannya (sesudah tugasnya selesai) diseyogiakan untuk tidak disebut klausa induk (Verhaar 1999:275).
16.2JENIS-JENIS
KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT
Secara garis besar kalimat
turunan plural bertingkat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kalimat
turunan plural bertingkat dari hasil penggabungan klausa dan
(2) kalimat turunan plural dari hasil penggantian gatra.
16.2.1 KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT DARI HASIL PENGGABUNGAN DUA KLAUSA
Berdasarkan hasil penggabungan klausa, ada
sebelas pola kalimat turunan plural
bertingkat, yaitu (1) kalimat turunan plural bertingkat hubungan akibat, (2)
kalimat turunan plural bertingkat hubungan atributif, (3) kalimat turunan
plural bertingkat hubungan cara, (4) kalimat turunan plural bertingkat hubungan
konsesif, (5) kalimat turunan plural bertingkat hubungan penjelasan, (6) kalimat turunan plural bertingkat hubungan
penyebaban, (7) kalimat turunan plural bertingkat hubungan perbandingan, (8)
kalimat turunan plural bertingkat hubungan sangkalan, (9) kalimat turunan
plural bertingkat hubungan syarat atau kondisional, (10) kalimat turunan plural
bertingkat hubungan tujuan, dan
(11) kalimat turunan plural
bertingkat hubungan waktu (Kosasih 2003:88).
16.2.1.1
Kalimat Turunan Plural
Bertingkat Hubungan Akibat
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
akibat; ditandai oleh konjungsi sehingga, sampai-sampai, maka, dan
sebagainya. Misalnya:
(87) a. Ia terlalu keras dalam bekerja. (= kalimat
turunan tunggal).
b. Ia jatuh sakit. (= kalimat turunan tunggal).
c. Ia terlalu
keras dalam bekerja, sehingga jatuh sakit. (= kalimat turunan
plural bertingkat)
16.2.1.2
Kalimat Turunan Plural
Bertingkat Hubungan Atributif
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
atributif; ditandai oleh konjungsi yang. Misalnya:
(88) a. Orang itu sedang memimpin sidang. (=
kalimat turunan tunggal).
d. Orang itu dosen saya. (=
kalimat turunan tunggal).
a. Orang yang sedang memimpin sidang
itu dosen saya. (= kalimat turunan plural bertingkat).
16.2.1.3 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Cara
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
cara; ditandai oleh konjungsi dengan.Misalnya:
(89) a.
Anak itu dibawa ke rumah orang
tuanya. (= kalimat turunan tunggal).
b. Ia diantar setiap hari. (=
kalimat turunan tunggal).
c.
Anak
itu dibawa ke rumah orang tuanya dengan cara diantarnya setiap hari. (= kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1.4 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Konsesif
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
konsesif; ditandai oleh konjungsi biarpun, meskipun, kendatipun, sekalipun,
sungguhpun, dan walaupun. Misalnya:
(90) a.
Agam hidup dalam segala keterbatasan
(= kalimat turunan tunggal)
b. Agam tidak pernah mengeluh. (= kalimat
turunan tunggal)
d. Meskipun hidup dalam segala keterbatasan,
Agam tidak pernah mengeluh.
( = kalimat turunan plural
bertingkat).
16.2.1.5 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Penjelasan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
penjelasan; ditandai oleh konjungsi bahwa.Misalnya:
(91) a.
Tina mengatakan sesuatu. (= kalimat turunan tunggal).
b.
Ayahnya seorang kepala desa. (= kalimat turunan tunggal).
c. Tina mengatakan bahwa ayahnya seorang
kepala desa. ( = kalimat turunan plural bertingkat).
16.2.1.6 Kalimat Turunan Plural
Bertingkat Hubungan Penyebaban
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
penyebaban; ditandai oleh konjungsi sebab, karena, dan oleh karena.
Misalnya:
(92) a.
Ia mengundurkan diri dari perusahaan itu
(= kalimat turunan tunggal).
b. Perusahaan itu sudah
tidak prospektif baginya. (= kalimat turunan tunggal).
c. Ia mengundurkan diri
dari perusahaan itu karena perusahaan sudah tidak prospektif baginya. (=
kalimat turunan plural bertingkat).
16.2.1.7 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Perbandingan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
perbandingan; ditandai oleh konjungsi alih-alih, bagaikan, daripada, ibarat,
laksana, sebagaimana, seperti, dan sebagainya. Misalnya:
(93
)a. Amanah naik kereta api. (= kalimat turunan tunggal).
b. Amanah naik pesawat
terbang. (= kalimat turunan tunggal).
c. Alih-alih naik kereta api, Amanah naik pesawat terbang. (=
kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1.8 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Sangkalan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
sangkalan; ditandai oleh konjungsi seolah-olah dan seakan-akan.
Misalnya:
(94) a.
Kartika diam saja. (= kalimat turunan tunggal)
b. Kartika tidak mengetahui kenyataan yang
terjadi selama ini. (= kalimat turunan tunggal).
c.
Kartika diam saja, seakan-akan tidak
mengetahui kenyataan yang terjadi selama
ini. (= kalimat turunan plural bertingkat).
16.2.1.9 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Syarat atau
Kondisional
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
syarat atau kondisional; ditandai oleh konjungsi apabila, andaikan, jika,
seandainya, dan sebagainya. Misalnya:
( 95) a.
Saudara sekalian sudah pernah berbicara di depan. (= kalimat turunan
tunggal)
b. Saudara sekalian akan merasakan susahnya
tidak diperhatikan. (= kalimat turunan tunggal).
c. Jika sudah pernah berbicara di
depan, Saudara sekalian akan merasakan susahnya
tidak diperhatikan. (= kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1.10 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Tujuan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
tujuan; ditandai oleh konjungsi agar, biar, supaya, dan sebagainya.
Misalnya:
(96) a. Kami sengaja menyewa rumah. (= kalimat
turunan tunggal)
b. Kami segera mandiri. (=
kalimat turunan tunggal)
c. Kami sengaja menyewa
rumah agar segera mandiri. (=
kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1.11 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan
Waktu
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan
waktu; ditandai oleh konjungsi ketika,
manakala, sampai, sejak,
selagi, sewaktu, setelah, dan sebagainya. Misalnya:
(97) a.
Bergabunglah dengan salah satu organisasi mahasiswa yang kamu suka! (=
kalimat turunan tunggal).
b. Kamu masih kuliah. (= kalimat turunan
tunggal)
c.
Bergabunglah
dengan salah satu organisasi mahasiswa yang kamu suka selagi kamu masih
kuliah. (= kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1
KALIMAT TURUNAN PLURAL
BERTINGKAT BERTINGKAT DARI HASIL PENGGANTIAN KONSTITUEN GATRA
Yang dimaksud dengan penggantian
konstituen gatra adalah penggantian salah satu unsur gatra
dalam klausa menjadi klausa baru sehingga, di dalam kalimat yang bersangkutan
terdapat paling tidak dua klausa.
Penggantian gatra ini dibedakan menjadi sembilan yaitu (1) penggantian konstituen induk (KI) subjek, (2)
penggantian konstituen atribut (KA) subjek, (3) penggantian KI predikat, (4) penggantian
KA predikat, (5) penggantian KI
objek, (6) penggantian KA objek, (7)
penggantian KI pelengkap, dan (8) penggantian KA pelengkap, dan (9)
penggantian KI keterangan.
Oleh karena itu, dilihat dari penggantian gatranya,
diperoleh sembilan pola kalimat turunan
plural bertingkat, yaitu: (1) kalimat turunan
plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti subjek, (2) kalimat turunan
plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut subjek, (3) kalimat
turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti predikat, (4) kalimat
turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut predikat, (5)
kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti objek, (6)
kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut
objek, (7) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan
pengganti pelengkap, (8) kalimat turunan
plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut pelengkap, dan (9)
kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti keterangan
16.2.2.1 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Subjek
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur yang menduduki fungsi subjek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL
KALIMAT TURUNAN PLURAL
(98)
Wisnu sangat santun. S
P K
S P Anak yang datang
ke pelatihan pewara itu,
S
sangat santun.
P
S
P O
(99) Orang
itu istri saya. Yang membaca majalah itu istri saya.
S
P
S P
S P
(100) Berita
itu benar. Bahwa dosen itu telah
meninggal dunia benar.
S
P
S
P
Pada contoh (98), klausa anak yang
datang ke pelatihan pewara itu merupakan klausa bawahan yang berfungsi
menggantikan subjek Wisnu. Selanjutnya, pada contoh (99) Yang membaca
majalah itu, yang merupakan klausa
bawahan pengganti subjek orang itu. Demikian juga pada contoh (100)
terlihat adanya fungsi subjek berita itu diganti dengan klausa (pemerlengkapan
proposisional) bawahan bahwa dosen itu telah meninggal dunia.
16.2.2.2 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Atribut Subjek
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur yang menduduki fungsi atribut subjek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
(101)
Anak itu sangat rajin. S P K
S P Anak yang membawa tas S
sangat rajin.
P
Dalam contoh tersebut, kata itu --yang
merupakan atribut subjek-- pada kalimat tunggal berganti menjadi yang
membawa tas pada kalimat turunan
plural bertingkat, sehingga kalimat turunan plural bertingkat tersebut disebut
kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut
subjek. Contoh lainnya ilah contoh (102) dan (103).
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
S P
O
(102)
Orang itu istri saya Orang
yang membaca majalah istri saya.
S
P
S P
S P
(103) Berita itu benar Berita bahwa dosen
itu telah meninggal dunia benar.
S P S
P
16.2.2.3 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Predikat
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki unsur utama fungsi
predikat dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
S
P O
(104)
Orang itu istri saya Orang
itu yang melahirkan anak saya.
S
P
S P
16.2.2.4 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Atribut Predikat
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki fungsi atribut predikat
dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN
PLURAL
(105)
Orang itu cantik sekali. Orang itu cantik
seperti bidadari turun dari kayangan.
S P S P S P K
(106)
Rumah itu rumah kontrakan Rumah itu rumah
yang dijadikannya tempat usaha
S P S
P P O
Dalam kedua contoh tersebut, kata sekali
dan kontrakan yang merupakan atribut predikat dalam kalimat tunggal
berturut-turut diganti dengan seperti
bidadari turun dari kayangan dan yang dijadikannya tempat usaha
dalam kalimat turunan plural bertingkat.
16.2.2.5 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Objek
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki unsur utama fungsi objek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN
PLURAL
(107)
Reporter menyampaikan berita itu. Reporter menyampaikan
S P O S P
bahwa pelaksanaan Pemilu 2009 diundur.
(konj) S P
(108) Nilam telah membaca buku itu. Nilam telah membaca yang dibeli Fredi kemarin.
S P O
S P P P el K
16.2.2.6 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Atribut Objek
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki fungsi atribut objek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
(109)
Aditya telah membaca buku itu. Aditya telah membaca buku yang dibeli Fredi kemarin.
S P O S P O P Pel K
16.2.2.7 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Pelengkap
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur yang menduduki unsur utama fungsi pelengkap dalam kalimat
tunggal. Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
S P
K
(110)
Saifullah memberi Tutik hadiah. Saifullah
memberi Tutik yang
terbuat dari emas.
S P O Pel S P O Pel
16.2.2.8 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti
Atribut Pelengkap
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki fungsi atribut pelengkap
dalam kalimat tunggal. Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN PLURAL
S P
(111)
Hari menjadikan saya teman akrab. Hari menjadikan saya teman yang
selalu menemaninya
S P O Pel S P O Pel
baik di kala
susah maupun senang.
K
16.2.2.9 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan
Klausa Bawahan Pengganti Keterangan
Kalimat
ini terbentuk dengan mengganti unsur
yang menduduki fungsi keterangan dalam
kalimat tunggal.
Misalnya
KALIMAT TUNGGAL KALIMAT TURUNAN
PLURAL
S P K
(112)
Maulana datang tadi siang. Maulana datang ketika
Teguh masih berada di kampus.
S P K S P K
(113) Pada waktu
itu Prof. B. K.
Sewaktu berada
di Belanda Prof. B.K. Ekowardono
K S P K S
Ekowardono tinggal tinggal bersama
dengan Prof. Abdul Chaer
P. P K
bersama dengan Prof.
Dr. Abdul Chaer
K
Dalam contoh
(113), kalimat turunan plural itu pada mulanya berbunyi Sewaktu Prof.
B.K. Ekowardono berada di Belanda, Prof. B.K. Ekowardono bersama dengan Prof.
Dr. Abdul Chaer. Hanya saja, karena ada subjek yang disebut berulang, maka
salah satunya dilesapkan, sehingga menjadi Sewaktu berada di Belanda, Prof.
B.K. Ekowardono tinggal bersama dengan
Prof. Dr. Abdul Chaer.