Merah Putih

Merah Putih
gambar bendera, lambang Negara, beserta peta NKRI

Senin, 12 Januari 2015

sintaksis kalimat majemuk bertingkat

PERTEMUAN XVI
 KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT
(MAJEMUK BERTINGKAT)

D. RINGKASAN MATERI

16.1  PENGERTIAN KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT
Kalimat turunan plural bertingkat adalah kalimat turunan plural yang terbentuk dari klausa-klausa yang berkedudukan tidak sederajat, tidak sejajar,  tidak setara (Zaenuddin 1992:65), tidak selevel, atau tidak setingkat; dengan perkataan lain, yang klausa-klausanya memiliki hubungan subordinatif. Klausa-klausa  dalam kalimat turunan plural subordinatif  bisa berstatus  sebagai klausa induk dan bisa juga  sebagai klausa bawahan.
Jadi, dalam kalimat turunan plural  bertingkat, selain terdapat klausa atasan, yang biasa dikenal dengan istilah  klausa induk,  klausa inti,  klausa utama,  atau klausa matriks, terdapat pula  klausa bawahan, yang diistilahkan pula dengan klausa semat(-an) atau klausa subordinatif.
 Klausa induk  selalu merupakan klausa “atasan”  bagi klausa  bawahan yang bergantung  kepadanya. Tetapi, tidak setiap klausa atasan merupakan klausa induk. Misalnya, dalam konstruksi {Karena Sri baru pulang {sesudah tugasnya selesai}} {dia tidak dapat menghadiri rapat} ada tiga “tingkat”: klausa paling atas  (dia tidak dapat menghadiri rapat) adalah klausa induk, tetapi klausa  karena Sri baru pulang  meskipun merupakan klausa atasan terhadap klausa bawahannya (sesudah tugasnya selesai)  diseyogiakan untuk tidak disebut  klausa induk (Verhaar 1999:275).

16.2JENIS-JENIS KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT

Secara garis besar  kalimat  turunan plural bertingkat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kalimat turunan plural bertingkat dari hasil penggabungan  klausa dan  (2) kalimat turunan plural dari hasil penggantian gatra.
16.2.1 KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT DARI HASIL PENGGABUNGAN  DUA KLAUSA

Berdasarkan hasil penggabungan klausa, ada sebelas pola kalimat  turunan plural bertingkat, yaitu (1) kalimat turunan plural bertingkat hubungan akibat, (2) kalimat turunan plural bertingkat hubungan atributif, (3) kalimat turunan plural bertingkat hubungan cara, (4) kalimat turunan plural bertingkat hubungan konsesif, (5) kalimat turunan plural bertingkat hubungan penjelasan, (6)  kalimat turunan plural bertingkat hubungan penyebaban, (7) kalimat turunan plural bertingkat hubungan perbandingan, (8) kalimat turunan plural bertingkat hubungan sangkalan, (9) kalimat turunan plural bertingkat hubungan syarat atau kondisional, (10) kalimat turunan plural bertingkat hubungan tujuan, dan  (11)  kalimat turunan plural bertingkat hubungan waktu (Kosasih 2003:88).
16.2.1.1    Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Akibat
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan akibat; ditandai oleh konjungsi sehingga, sampai-sampai, maka, dan sebagainya. Misalnya:
(87)  a. Ia terlalu keras dalam bekerja. (= kalimat turunan tunggal).
b.  Ia jatuh sakit. (= kalimat turunan tunggal).
c.   Ia terlalu  keras dalam bekerja, sehingga jatuh sakit. (= kalimat turunan plural bertingkat)
16.2.1.2    Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Atributif
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan atributif; ditandai oleh konjungsi yang. Misalnya:
(88)     a.    Orang itu sedang memimpin sidang. (= kalimat turunan tunggal).
d.       Orang itu dosen saya. (= kalimat turunan tunggal).
a.       Orang yang sedang memimpin sidang itu dosen saya. (= kalimat turunan plural bertingkat).


16.2.1.3 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Cara
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan cara; ditandai oleh konjungsi dengan.Misalnya:              
(89)       a.    Anak itu  dibawa ke rumah orang tuanya. (= kalimat turunan tunggal).
b. Ia diantar setiap hari. (= kalimat turunan tunggal).
c.        Anak itu dibawa ke rumah orang tuanya dengan cara diantarnya setiap hari.         (= kalimat turunan plural bertingkat)

16.2.1.4 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Konsesif
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan konsesif; ditandai oleh konjungsi biarpun, meskipun, kendatipun, sekalipun, sungguhpun, dan  walaupun. Misalnya:
(90)    a.   Agam hidup dalam segala keterbatasan  (= kalimat turunan tunggal)
                   b.  Agam tidak pernah mengeluh. (= kalimat turunan tunggal)
d.   Meskipun hidup dalam segala keterbatasan, Agam tidak pernah mengeluh.                  
( = kalimat turunan plural bertingkat).
16.2.1.5 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Penjelasan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan penjelasan; ditandai oleh konjungsi  bahwa.Misalnya:
       (91)     a.   Tina mengatakan sesuatu. (= kalimat turunan tunggal).
b.  Ayahnya seorang kepala desa. (= kalimat turunan tunggal).
c.   Tina mengatakan bahwa ayahnya seorang kepala desa. ( = kalimat turunan plural bertingkat).

16.2.1.6  Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Penyebaban
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan penyebaban; ditandai oleh konjungsi sebab, karena, dan oleh karena. Misalnya:
             (92)  a. Ia mengundurkan diri dari perusahaan itu  (= kalimat turunan tunggal).
                        b. Perusahaan itu sudah tidak prospektif baginya. (= kalimat turunan tunggal).
                        c. Ia mengundurkan diri dari perusahaan itu karena perusahaan sudah tidak prospektif baginya. (= kalimat turunan plural bertingkat).

16.2.1.7 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Perbandingan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan perbandingan; ditandai oleh konjungsi alih-alih, bagaikan, daripada, ibarat, laksana, sebagaimana, seperti, dan sebagainya. Misalnya:
            (93  )a. Amanah naik kereta api. (= kalimat turunan tunggal).
                     b. Amanah naik pesawat terbang. (= kalimat turunan tunggal).
  c. Alih-alih naik kereta api, Amanah naik pesawat terbang. (= kalimat turunan plural bertingkat)

16.2.1.8 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Sangkalan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan sangkalan; ditandai oleh konjungsi seolah-olah dan seakan-akan. Misalnya:
(94)       a.     Kartika diam saja. (= kalimat turunan tunggal)
b.       Kartika tidak mengetahui kenyataan yang terjadi selama ini. (= kalimat turunan tunggal).
c.        Kartika  diam saja, seakan-akan tidak mengetahui kenyataan  yang terjadi selama ini. (= kalimat turunan plural bertingkat).

16.2.1.9 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Syarat                         atau Kondisional

Kalimat turunan plural bertingkat hubungan syarat atau kondisional; ditandai oleh konjungsi apabila, andaikan, jika, seandainya, dan sebagainya. Misalnya:
            ( 95)   a.   Saudara sekalian sudah pernah berbicara di depan. (= kalimat turunan tunggal)
 b. Saudara sekalian akan merasakan susahnya tidak diperhatikan. (= kalimat turunan tunggal).
     c. Jika sudah pernah berbicara di depan, Saudara sekalian akan merasakan susahnya  tidak diperhatikan. (= kalimat turunan plural bertingkat)

16.2.1.10 Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Tujuan
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan tujuan; ditandai oleh konjungsi agar, biar, supaya, dan sebagainya. Misalnya:
          (96)  a. Kami sengaja menyewa rumah. (= kalimat turunan tunggal)
                     b. Kami segera mandiri. (= kalimat turunan tunggal)
                     c. Kami sengaja menyewa rumah agar  segera mandiri. (= kalimat turunan plural bertingkat)

16.2.1.11  Kalimat Turunan Plural Bertingkat Hubungan Waktu
Kalimat turunan plural bertingkat hubungan waktu; ditandai oleh konjungsi  ketika,  manakala, sampai, sejak,  selagi, sewaktu, setelah, dan sebagainya. Misalnya:
  (97) a.  Bergabunglah dengan salah satu organisasi mahasiswa yang kamu suka! (= kalimat turunan tunggal).
b.       Kamu masih kuliah. (= kalimat turunan tunggal)
c.        Bergabunglah dengan salah satu organisasi mahasiswa yang kamu suka selagi kamu masih kuliah. (= kalimat turunan plural bertingkat)

16.2.1    KALIMAT TURUNAN PLURAL BERTINGKAT BERTINGKAT DARI HASIL PENGGANTIAN KONSTITUEN GATRA

Yang dimaksud dengan penggantian konstituen  gatra  adalah penggantian salah satu unsur gatra dalam klausa menjadi klausa baru sehingga, di dalam kalimat yang bersangkutan terdapat paling tidak  dua klausa. Penggantian gatra ini dibedakan menjadi sembilan yaitu (1)  penggantian konstituen induk (KI) subjek, (2) penggantian konstituen atribut (KA) subjek, (3) penggantian KI predikat, (4)  penggantian  KA predikat, (5)  penggantian KI objek,  (6) penggantian  KA objek, (7)  penggantian KI pelengkap, dan (8) penggantian KA pelengkap, dan (9) penggantian KI keterangan.
            Oleh karena itu, dilihat dari penggantian gatranya, diperoleh  sembilan pola kalimat turunan plural bertingkat, yaitu:  (1) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti subjek, (2) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut subjek, (3) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti predikat, (4) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut predikat, (5) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti objek, (6) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut objek, (7) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti  pelengkap, (8) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut pelengkap, dan (9) kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti  keterangan

16.2.2.1 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan  Pengganti  Subjek

Kalimat ini terbentuk dengan  mengganti  unsur yang menduduki  fungsi subjek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
   KALIMAT TUNGGAL                      KALIMAT TURUNAN PLURAL
(98)   Wisnu sangat santun.                       S              P                  K                                   
             S                  P                          Anak yang datang ke pelatihan pewara  itu,
                                                                                      S
    sangat santun.       
                                                                                P
                                                                   S        P              O                              
 (99)   Orang itu istri saya.  Yang  membaca majalah itu   istri saya.
                S          P                                                    S                        P
                               
                                                                              S ­­­­­                                       P                                                     
 (100)  Berita itu benar.                      Bahwa dosen itu telah meninggal dunia  benar.
                 S          P                                                    S                                                 P

Pada contoh (98), klausa anak yang datang ke pelatihan pewara itu merupakan klausa bawahan yang berfungsi menggantikan subjek Wisnu. Selanjutnya, pada contoh (99) Yang membaca majalah itu,  yang merupakan klausa bawahan pengganti subjek orang itu. Demikian juga pada contoh (100) terlihat adanya fungsi subjek berita itu diganti dengan klausa (pemerlengkapan proposisional) bawahan bahwa dosen itu telah meninggal dunia.

16.2.2.2 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Atribut Subjek

Kalimat ini terbentuk dengan  mengganti  unsur yang menduduki  fungsi atribut subjek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL           KALIMAT TURUNAN PLURAL
(101)   Anak itu sangat rajin.                                    S           P              K­­­                           
              S                  P                     Anak yang membawa tas                                                                                                                               S
   sangat rajin. 
            P                         
            Dalam contoh tersebut, kata itu --yang merupakan atribut subjek-- pada kalimat tunggal berganti menjadi yang membawa tas  pada kalimat turunan plural bertingkat, sehingga kalimat turunan plural bertingkat tersebut disebut kalimat turunan plural bertingkat dengan klausa bawahan pengganti atribut subjek. Contoh lainnya ilah contoh (102) dan (103).
        KALIMAT TUNGGAL           KALIMAT TURUNAN PLURAL

                                                                                S        P                        O                   
(102) Orang itu istri saya                      Orang  yang  membaca majalah    istri saya.
               S          P                                                            S                        P
                                                                                         S                                                         P                                                     
(103)  Berita itu benar                        Berita bahwa dosen itu telah meninggal dunia benar.
              S          P                                                    S                                                 P


16.2.2.3 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Predikat

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  unsur utama fungsi predikat dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL                      KALIMAT TURUNAN PLURAL
                                                                                       S        P                    O                   
(104) Orang itu istri saya                      Orang  itu  yang  melahirkan anak saya.
               S          P                                       S                       P

16.2.2.4 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Atribut Predikat

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  fungsi atribut predikat dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL                           KALIMAT TURUNAN PLURAL

(105) Orang itu cantik sekali.                  Orang itu cantik seperti bidadari turun dari kayangan.
           S                   P                                   S           P                    S            P        K
                                                          
(106) Rumah itu  rumah kontrakan        Rumah itu  rumah  yang  dijadikannya  tempat usaha
            S                                  P                              S                P                   P                       O
           
           Dalam kedua contoh tersebut, kata sekali dan kontrakan yang merupakan atribut predikat dalam kalimat tunggal berturut-turut diganti  dengan seperti bidadari turun dari kayangan dan yang dijadikannya tempat usaha dalam kalimat turunan plural bertingkat.
 
16.2.2.5 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Objek

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  unsur utama fungsi  objek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL                             KALIMAT TURUNAN PLURAL

(107) Reporter menyampaikan berita itu.    Reporter menyampaikan
          S                          P             O                   S          P     

bahwa  pelaksanaan   Pemilu 2009 diundur.
(konj)     S                                              P

 (108) Nilam  telah membaca buku itu.        Nilam   telah membaca  yang dibeli Fredi kemarin.
           S                   P              O                     S        P                               P           P el    K

16.2.2.6 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Atribut Objek

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  fungsi atribut  objek dalam kalimat tunggal.
Misalnya:
KALIMAT TUNGGAL                         KALIMAT TURUNAN PLURAL

(109) Aditya telah membaca buku itu.     Aditya   telah membaca  buku yang dibeli Fredi kemarin.
            S                   P              O              S                P                     O          P       Pel             K

16.2.2.7 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Pelengkap

Kalimat ini terbentuk dengan  mengganti  unsur yang menduduki  unsur utama fungsi pelengkap dalam kalimat tunggal. Misalnya:

KALIMAT TUNGGAL                      KALIMAT TURUNAN PLURAL
                                                                                                           S       P­            K
(110) Saifullah memberi Tutik hadiah.       Saifullah memberi Tutik yang  terbuat dari emas.
             S             P           O        Pel                    S         P          O        Pel

16.2.2.8 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Atribut Pelengkap

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  fungsi atribut pelengkap dalam kalimat tunggal. Misalnya:


KALIMAT TUNGGAL                         KALIMAT TURUNAN PLURAL
                                                                                                                    S                        P   
(111) Hari menjadikan saya teman akrab.     Hari  menjadikan saya teman yang selalu menemaninya
            S             P           O            Pel              S         P            O        Pel
                                                                        
                                                                        baik di kala susah maupun  senang.
                                                                                       K
 
16.2.2.9 Kalimat Turunan Plural Bertingkat dengan Klausa Bawahan Pengganti Keterangan

Kalimat ini terbentuk dengan mengganti  unsur yang menduduki  fungsi keterangan dalam kalimat tunggal.
Misalnya
KALIMAT TUNGGAL                             KALIMAT TURUNAN PLURAL
                                                                                                           S           P      K            
(112) Maulana datang tadi siang.                      Maulana datang ketika Teguh masih berada di kampus.
           S             P           K                                  S            P                   K

(113) Pada waktu itu  Prof. B. K.            Sewaktu  berada    di Belanda   Prof. B.K. Ekowardono
                   K                       S                                  P                   K                        S
         Ekowardono  tinggal                      tinggal bersama dengan Prof. Abdul Chaer
                                      P.                           P                                    K
        bersama dengan  Prof.
       Dr. Abdul Chaer               
                   K

Dalam contoh  (113), kalimat turunan plural itu pada mulanya berbunyi Sewaktu Prof. B.K. Ekowardono berada di Belanda, Prof. B.K. Ekowardono bersama dengan Prof. Dr. Abdul Chaer. Hanya saja, karena ada subjek yang disebut berulang, maka salah satunya dilesapkan, sehingga menjadi Sewaktu berada di Belanda, Prof. B.K. Ekowardono tinggal  bersama dengan Prof. Dr. Abdul Chaer.



Kamis, 11 Desember 2014

ini sinopsis novel azab dan sengsara

ASinopsis Novel Azab dan Sengsara
Novel Azab dan Sengsara menceritakan kisah cinta antara Mariamin dan Aminu’ddin. Suatu ketika disebuah Kota Sipirok terdapat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang ibu yang bernama Nuriah.Dia memiliki dua orang anak.Anak yang pertama seorang gadis yang bernama Mariamin.Kemudian anak keduanya masih berusia empat tahun.Mereka tinggal digubuk kecil dekat sungai Sipirok yang  hidupnya penuh dengan kemelaratan.Ditambah dengan keadaan ibu Mariamin yang hidupnya dalam keadaan sakit parah. Ayah Mariamin yang bernama Sutan Baringin sudah meninggal dunia.Saat itu Mariamin dan Aminu’ddin sudah berteman sejak mereka masih kecil.Namun mereka dari keluarga yang berbeda.Ayah Aminu’ddin adalah seorang kepala kampung Siporok yang kaya dan terhormat, sedangkan Mariamin hidup dalam kemelaratan bersama Ibunya.
Kemelaratan itu bermula ketika sang ayah Sutan Baringin meninggal.Karena ketika ayah Mariamin masih hidup  Sutan Baringin seorang yang terbilang hartawan lagi bangsawan diseluruh penduduk Sipirok.Dia juga memiliki rumah yang mewah, sawah yang luas, dan binatang ternak yang banyak. Akan tetapi karena dia suka beperkara, maka harta yang banyak itu habis tak tersisa akibat ulah Sutan Baringin itu sendiri.Sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos perkara, dan pa akhirnya jatuh miskin.Sutan Baringin semasa hidupnya dia juga tekenal dengan orang yang sangat boros dan serakah.Sikap yang demikian itu diakibatkan oleh kesalah asuhan keluarganya terhadap Sutan Baringin pada saat dia masih kecil. Sudah berkali-kali istrinya melarang sutan Baringin, supaya berhenti beperkara, tetapi dia juga masih melakukannya.Namun Sutan Baringin menutup telinganya, tidak hendk mendengarkan kata istrinya ,meskipunperempuan yang baik itu mengingatkan suaminya.Segala bujuk dan nasihat, yang diucapkan istrinya sia-sia.
Keika Aminu’ddin, dia adalah sosok anak yang amat rajin belajar,baikdisekolahatau dirumah sehingga banyak orang yang sayang terhadap Aminu’ddin.Meskipun Aminu’ddin anak dari seorang kepala kampung yang kaya dan terhormat tetapi dia tidak pernah sedikitpun sombong terhadap orang lain.Dia tidak dapat pernah menahan nafsunya ,yaitu nafsu untuk selalu menolong orang lain.Dia juga seorang yang bijaksana, adat,dan kelakuannya baik dan halus budi bahasanya.Itu membuat Mariamin sangat suka bercampur dengan Aminu’ddin dan Mariamin juga sangat suka dengan cerita-cerita Aminu’ddin.Begitupunjuga Maryamin yang memilki sifat cerdik,pengiba, dan suka berpikir.Mereka selalu bersama ketika pulang ataupun pergi ke sekolah ataupun ketika ketikabersama-sama disawah,karena sawah orang tua mereka berbatasan.Ketika diawah mereka pun saling bantu membantu melakukan kegiatannya tersebut.Kebersamaan dan pertemanan itu berlanjut sampai mereka dewasa.Dan akhirnya mereka mengerti akan percintaan.
Meskipun Mariamin hidup dalam kemelaratan tidak menghalangi niat Aminu’din untuk menikahi Mariamin.Aminu’ddin sama sekali tidak mempemasalahkan keadaan Mariamin. Karena pertemanan yang dibina Mariamin dengan Aminu’ddin dari mereka masih kecil telah menumbuhkan perasaan cinta antara insan berdua itu.Suatu ketika Aminu’ddin telah mendapatkan pekerjaan di Medan, dia mengutarakan niatnya untuk menikahi Mariamin.Ibu Mariamin pun setuju akan hal itu.Karena dia merasa telah berutang nyawa terhadap Aminu’ddin yang telah menyelamatkan Mariamin ketika terjatuh ke sungai. Kemudian Pada saat itu pula Aminu’ddin akan pergi merantau ke Medan untuk bekerja, dan mewujudkan cita-citanya yaitu menikahi Mariamin.Ketika Aminu’ddin pergi merantau Mariaminpun dilanda kesedihan yang sangat dalam.Ia tak lagi dapat berkata-kata, karena tangisnya menyumbat tenggorokan, dan air matanya bercucuran pada pipi yang halus itu, jatuh ke banta guling.karena dia mengingat akan kenang kenangan yang telah mereka lakukan disetiap harinya secara bersama-sama.
Namun ayah Aminu’ddin tidak menyetujui akan hal pernikahan antara Maryamin dengan Aminu’ddin.Karena pernikahan Aminu’ddin dan Mariamin dianggap akan merendahkan derajat keluarganya.Menurut ayahnya Aminu’ddin lebih pantas menikah dengan wanita lain.”Karena dalam masyarakat Batak Angkola yang menganut sistem seorang ayah berhak dalam menentukan calon pendaming bagi anaknya”.Maka tanpa sepengetahuan Aminu’ddin ayahnya meminang seorang gadis yang berasal dari keluarga bangsawan kaya.Melalui surat bahwa Calon Istrinya akan segera dibawa ke Medan, tempat Aminu’ddin bekerja.Aminu’ddin sangat gembira mendengar kabar itu.Sudah sekian lama dia membayangkan untuk bisa menikahi Mariamin.Dengan penuh kegembiraan Aminu’ddin berharap bahwa calon istri yang dibawakan ayahnya itu adalah Maryamin.
Tiba saatnya yang ditunggu-tunggu oleh Aminu’ddin.Jam sepulu merupakan saat yang nikmat yang akan diterima oleh Aminu’ddin.Bunyi kereta pun kedengaran semakin dekat,asap yang berkebul-kebul beterbangan ke kanan dan kekiri,akhirnya keretapun memasuki stasiun dengan sear yang sangat keras yang mengakibatkan tanah bergetar.Kini Aminu’ddin kian berharap bahwa yang datang adalah Mariamin kekasih hatinya.Hati Aminu’ddin berdebar –debar ketika melihat ayahnya turun dari kereta.Aminu’ddin berlari menghampiri ayahnya.Saat itu nikmat Aminu’ddin berganti dengan kekecewaan karena yang dibawa ayahnya bukanlah Mariamin kekasih hatinya melainkan wanita lain.
Meskipun kecewa,Aminuddin tak dapat menolak keingina ayahnya.Karena jika Aminu’ddin menolak menikahi gadis itu maka dia akan memalukan keluarganya.Akhirnya dengan terpaksa Aminu’ddin menikah dengan gadis pilihan ayahnya.Seusai pernikahan,Aminu’ddin pun berkirim surat terhadap mariamin sebagai permintaan maaf.Dengan kesedihan dan kekecewaan Aminu’ddin pun menulis surat untuk Maiamin.Setelah sebulan perkawinan Aminu’ddin ayah dan ibu Aminu’din pulang ke Sipirok mereka harus membawa pesan dari Aminu’ddin yang mana pesan itu wajib disampaikan.Pesan itu adalah “setelah sampai di Siporok,ia dan istrinya harus membawakan nasibungkus ke rumah ibu Mariamin.Dan meminta maaf karena Aminu’ddin telah berjanji dengan Mariamin akan menikahinya.Dan juga sebagai permintaan maaaf mereka harus memberikan seekor sapi dan kerbau kepada ibu Mariamin.”
Selang beberapa waktu Mariamin mendapatkan surat dari Medan surat itu yang ditulis oleh Aminu’ddin seusai pernikahan.Belum habis mariamin membaca surat itu, mukanya sudah pucat, keringatnya mengalir pada seluruh badannya.Tak kuasa menahan semua itu akhirnya Maryamin pun pingsan tiada bergerak sambil dipegangnya erat-etrat surat dari Aminu’ddin itu. Dan beberapa hari Mariamin sangat terpukul atas kejadian itu dan akhirnya pun jatuh sakit.
Tepat pada hari pertama, setlah Mariamin Sembuh kedua orang tua Aminu’ddin pun datang dengan membawakan nasi bungkus ke rumah ibu Mariamin.Dengan muka yang ramah Mariamin mengajak masuk dan ia mempersilahkan tamu itu duduk diaas tikar.Kemudian mariamin mengeluarkan kopi serta makanan yang ada dirumahnya.Mariaminpun dengan hormat mempersilahkan makan dan minum seraya Mariamin pergi memanggil ibunya. Melihat perbuatan Mariamin kedua orang tua Aminu’ddin menyesal.Mariamin bersenang hati karena dia mendengarka janji mulia dari ayah Aminu’ddin  bahwa mereka akan mengubah kelakuan yang selama ini diperbuat, dan tali persaudaraan yang tak kan terputus ,melainkan tambah diperkuat dalam hati mereka.Kemudian mariamin mengambil surat dari Aminu’ddin dan membaca dengan tenang dan merobek surat itu dan membalas surat itu dan akan memenuhi permintaan Aminu’ddin dengan seikhlas-ikhlasnya.
Tak lama kemudian Mariamin pun menikah dengan Kasibun lelaki pilihan ibunya.Mariamin tak dapat menolak permintaan ibunya untuk menikah,dan Akhirnya Mariamin pun dengan terpaksa menikah dengan Kasibun.Ibunya berharap kalau pernikahan itu akan mengurangi penderitaan Mariamin.Setelah pernikahannya Mariamin pun bersama-sama suaminya ke Medan.Kasibun pun tak dapak menguasai tubuh Mariamin karena Kasibun mempunyai penyakit yang berbahaya yang dapat menular.Mariamin pun selalu menolak jika Kasibun ingin menguasai tubuhnya.Mariamin meminta agar penyakit Kasibunitu disembuhkan terlebih dahulu.
Pada saat itu kota Medan sangat ramai.Aminu’ddin yang pada saat itu mengetahui kalau Mariamin ada di kota Meda,saat itu pula Aminu’ddin berkunjung kerumah Mariamin.Ketika itu suamin Mariamin Kasibun tidak ada di rumah.Kedatangan Aminuddin itu membuat ceburu Kasibun.maka sejak itulah timpul pemikiran-pemikiran buruk Kasibun terhadap Mariamin.Hingga kecemburuan itu membawa Suami istri itu dalam pertengkaran yang serupa dan sering terjadi diantara keduanya.Dan Kasibun yang bengis itu ketika bertemu dengan Mariamin segera menampar muka istrinya itu,tak hanya menampar tetapi juga dipukul,dan disiksa.Kemudian pada malam harinya Mariamin diusirnya dari tempat tidur, keluar dari kamar tidak boleh pintunya sudah dikunci oleh Kasibun. Tak ada sepoongpun tikar yang ada diatas lantai dalam kamar itu.Dan ketika suatra tangisan Mariamin terdengar oleh Kasibun, maka Kasibun tak segan-segan menempeleng muka Mariamin.Mariami pun dianiaya oleh suaminya yang  bernama Kasibun.
Mariamin pun mengadukan nasibnya ke kamtorpolisi.Karena dia tidak kuat lagi dengan sifat dan sisksaan yang diberikan oleh Kasibun.Kemudian Kasibun didenda dua puluh lima rupiah dan mereka diputuskan bercerai.

Setetelah bercerai Mariamin pun pulang ke rumah kecil pinggir sungai yang berada di kota Sipirok dengan membawa perasaan malu dengan membawa nama yang kurang baik dan menambah kesengsaraan bagi dirinya sehingga Mariami meninggal dengan membawa semua penderitaan yang dialaminya.

rangkuman sastra anak

Karakteristik puisi anak
1. Bahasanya sederhana
2.bentuknya naratif
3.berisi dimensi kehidupan yang bermakna dan dekat dengan dunia anak
4. Mengandung unsur bahasa yang indah dengan paduan bunyi, pilihan kata, satuan-satuan makna
5. Memberi komentar thdp kehidupan dalam dimensi yang bermanfaat bagi anak
6. Puisi hendak puitik dan isinya secara langsung menarik bagi emosi anak dan perasaan anak
7. Meliputi segala perasaan dan pengalaman anak
8. Puisi yang berbicara pada anak2 dalam bahasa puisi

UNSUR PUISI ANAK
1. Bunyi
- di dalam puisi anak, aspek bunyi mendukung pencapaian aspek kepuitisan sebuah puisi
- Persajakan, rima, aspek bunyi pada puisi anak menduduki peran penting untuk pencapaian keindahan
2. Ritme
Pengulangan bunyi secara teratur dan terus menerus.
Permainan bahasa, misalnya yang diperoleh lewat sarana2 aliterasi, asonansi, rima dan irama, akan membuat anak menjadi senang, merasa nikmat, menghilangkan kecemasan, dan menumbuhkan kesadaran diri untuk belajar (Mitchell 2003 : 73).
3. Kata
Wujud  formal karya sastra adalah bahasa dan satuan formal yang tersaji dalam teks sastra adalah kata2 atau deretan kata.
     Kata2 dipilih berdasarkan 4 aspek:
          a. Aspek Bunyi
             Bentuk persajakan baik di akhir larik maupun di awal, tengah, atau akhir kata ditengah larik.
          b. Aspek Bentuk
              Bahasa puisi singkat dan padat
              -Singkat mengindikasikan sedikitnya kata2 yang dimpakai dan padat menunjukkan luasanya gagasan
                yang ingin ditawarkan.
              - Karakteristik bahasa puisi anaka adalah sederhana, lugas, sertanpolos sebagaimana cara berpikir dan
                 beremosi anak yang lugas dan polos.
  Contoh : Aspek Brntuk
                 Doa yatim piatu
                  Tuhan
                  beri aku mama
                    Tuhan
                   beri aku papa
                    amin ... !
              c. Aspek makna
                 Gagasan2 yang ditampilkan pasti disekitar dunia anak dan bagaimana cara pandang anak thdp sesuatu
                 yang dalam banyak hal berdoa dgn orang dewasa.(keluarga dan kepolosan dalam menangkap dan
                menyikapi suatu permasalahan)
             d. Aspek Ekspresivitas
                Ekspresif - kesan atau efek yang ingin dicapai karena efek itunseolah olah dapat meyakinkan bahwa
                 sesuatu yg di ungkapkan benar2 merupakan lontaran hati scr serta merta.
                 Efek ekspresif diusahakan ketercapaiannya dan bukan terjadi begitu saja.
4. Sarana retorika (permajasan, citraan, dan penyiasatan struktur)
  - untuk menghidupkan pengekapresian serta memperoleh efek khusus yang bernilai lebih, baik bentuk ekspresif kebahasaan atau berbagai dimensi makna yang dapat dibangkitkan
  - untuk memperindah pengungkapan kebahasaan dan memperluas jangkauan makna.
5. Tema
Tema yang banyak ditemukan pada puisi anak antara lain : masalah keluarga, persahabatan, liburan, rumah, dan tempat2 lain, hal2 yang berkait dengan orang orang sekitar anak, orang tua, guru, teman, binatang, dan lingkungan alam.

JENIS PUISI ANAK
(Beberapa klasifikasi)

1. -pengalaman anak sehari-hari
    - puisi malam menjelang tidur
    - alam dan musim
    - hari libur
    - humor, lucu, ceria
2. - binatang
    - perkotaan
    - etnik/suku bangsa
    -olahraga
3. - Balada
    - Puisi Naratif
    - Puisi Lirik
    - Puisi lagu, nyanyian anak
    - Puisi Tembang Dolanan
    - Nursery Rhymes
-PENJELASAN
a. Balada
    puisi yang berisi cerita, namun dapat diadaptasikan untuk nyanyian atau paling tidak dapat memberikan efek 
    nyanyian
    (petualangan heroik, tragedi yang lain)
b. Puisi naratif
     puisi yang berisi cerita, diekspresikan dlm bentuk bahasa yang singkat, padat, larik2 pendek dan bait2
c. Puisi Lirik
    puisi yang menggambarkan suasana hati , jiwa perasaan dan pikiran untuk menyikapi sesuatu yang telah
    menjadi pengalama  emosional penulisnya.
d. Puisi lagu/ nyanyian anak
    syair lagu - piuisi
    lagu dan tembangdapat disebut sebagai puisi yang dilagukan, puisi lagu.
Conyoh : lagu jina bobok, pok ame2
e. Puisi tembang dolanan
    dilihat dari segi syair yang mendukung, lagu dolanan termasuk dalam puisi - Geguritan tradisional
Contoh: Gambang  suling, cublak2 suweng
f. Nursery Rhymes
   puisi2 kesayangan yang telah mentradisi dan karenanyanmerupakan bagian dari puisi lama yang bertradisional
  oral ( Mitchell)
  Nursery rhymes tdk hrs berupa syair2 lagu yg dinyanyika, tetapi dpt dan sering hanya berupa berupa bunyi musik, nyanyian vokal senandung, pengulangan bunyi2,irama2 sederhana yang mendapat penekanan (Hazard).
-Nursery rhymes adalah lagu anak2 yang digunakan untuk menghibur sekaligus mengajarkan bermacam pengetahuan pada anak2.
-Biasanya nursery rhymes berupa rima atau permainan bunyi yang paling dilakukan. Permainan bunyi bertujuan untuk menarik perhatian anak2 hingga secara tdk langsung mereka belajar untuk mengenali kosakata

lnursherupy rhytmes dapat berupa lagu dolanan.
Contoh : dondong opo salak