Merah Putih

Merah Putih
gambar bendera, lambang Negara, beserta peta NKRI

Senin, 12 Januari 2015

kalimat majemuk setara

PERKULIAHAN XV

  KALIMAT TURUNAN  PLURAL SETARA

(MAJEMUK SETARA)

 


RINGKASAN MATERI


15.1 PENGERTIAN DAN PERISTILAHAN KALIMAT TURUNAN PLURAL

Kalimat turunan plural adalah kalimat turunan yang dibentuk dengan penambahan klausa. Kalimat ini bisa disebut dengan kalimat plural saja. Pemakaian kata turunan dalam  frase kalimat turunan plural hanya dimaksudkan untuk menyejajarkan pola dengan kalimat dasar. Dalam hal ini, istilah kalimat turunan ditarik dari adanya istilah kalimat dasar. Kalimat turunan ialah kalimat yang merupakan transformasi (penurunan) dari kalimat dasar. Selanjutnya sebagaimana diketahui, kalimat (turunan) itu jika dilihat dari jumlah klausanya dapat dibedakan menjadi kalimat turunan tunggal dan kalimat turunan plural. Dari sinilah munculnya istilah kalimat turunan tunggal dan kalimat turunan plural itu. 
Sebagian  linguis Indonesia termasuk di antaranya para penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi, dkk 2003:398) dan penulis Asas-asas Linguistik Umum (Verhaar, dkk 1999:275), menyebutnya dengan kalimat majemuk. Akan tetapi, sebagian lain dari mereka, misalnya Ramlan (1987:49), Rahardi (2004:111) mengistilahkannya dengan kalimat luas. Dalam hal ini, Rahardi misalnya, membedakan istilah kalimat  kalimat luas dengan  kalimat kompleks dan kalimat majemuk. Menurutnya (2004:111), kalimat luas ialah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih; kalimat kompleks ialah  kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa uatam dan satu atau lebih klausa subordinatif; dan kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri dari dua  atau lebih klausa utama, dengan atau tanpa klausa subordinatif.   
Chaer, dalam Linguistik Umum (1994:247) menyebut kalimat yang memiliki dua klausa dengan kalimat majemuk, tetapi dalam Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia (2000:327) dengan kalimat luas, dengan memerinci kalimat luas menjadi kalimat luas rapatan,  kalimat luas bersisipan, kalimat luas setara,  kalimat luas bertingkat, dan kalimat luas  kompleks. Jadi, di sini ada juga istilah kalimat luas kompleks.  
 Selain itu, paling tidak ada seorang ahli lagi, yaitu Tarigan,  mempunyai konsep yang khas pula tentang peristilahan  kalimat yang dibentuk dari penggabungan klausa, dengan mengemukan dua  istilah, yaitu kalimat bersusun dan kalimat majemuk. Menurut Tarigan (1985:5), kalimat bersusun adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa  bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat, sedangkan kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas.     
Dalam handout ini, untuk menyebut kalimat yang terbentuk dari dua klausa atau lebih dengan istilah kalimat plural dengan mempertimbangkan paling tidak dua alasan. Pertama, menyangkut istilah kalimat luas. Istilah kalimat luas  kurang tepat jika dioposisikan dengan kalimat tunggal. Istilah itu sebaiknya dioposisikan dengan kalimat inti. Sejatinya, tidak salah jika kalimat luas itu merupakan kalimat plural, namun yang jadi masalah adalah bahwa tidak semua kalimat luas itu berupa kalimat plural, bahkan pada umumnya berupa kalimat tunggal. Oleh karena itu, pemakaian istilah kalimat luas untuk sinonim kalimat plural kuranglah tepat. Dalam hal ini malah lebih baik dipakai istilah kalimat majemuk.
Kedua, berkenaan dengan istilah kalimat majemuk. Istilah kalimat majemuk --yang meski sudah sangat memasyarakat itu-- dipandang kurang tepat jika yang dimaksudkan adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih. Istilah majemuk yang sebenarnya diserap dari bahasa Arab itu mengandung pengertian ‘tiga atau lebih’, bukan ‘dua atau lebih’.  Majemuk artinya sesuatu yang di-jamak-kan. Jamak dalam bahasa asalnya (Arab) mengandung arti  ‘tiga atau lebih’. Konsep ‘dua-an’ dalam bahasa Arab ada istilahnya sendiri, yaitu musanna. 
Dengan demikian, diperlukan istilah baru dan yang dipakai di sini adalah istilah kalimat plural, yang diserap dari bahasa Inggris. Istilah ini dipandang sebagai istilah yang paling tepat untuk  kalimat yang  terbentuk dari dua klausa atau lebih, mengingat konsep plural yang diserap dari bahasa Inggris itu  berarti ‘dua atau lebih’, bukan ‘tiga atau lebih’. Jadi, kalimat plural ialah kalimat yang mengandung dua klausa atau lebih dari dua klausa.

15.2 SARANA  PEMBENTUK  KALIMAT TURUNAN PLURAL

Sarana yang perlu hadir dalam  pembentukan kalimat turunan plural adalah:
(1)   perangkaian atau konjungsi,
(2)   pelesapan atau elipsis,
(3)   penggantian atau substitusi,
(4)   pengacuan atau referensi, dan
(5)   pemasifan.
Yang dimaksud dengan perangkaian  di sini ialah munculnya kata perangkai atau penghubung  yang dapat menghubungkan kedua klausa dalam kalimat turunan plural, baik dalam kalimat turunan plural setara maupun  dalam kalimat turunan plural bertingkat. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut ini.
(77) a.  Mahyadi pemain tengah terfavorit dalam Liga Djarum 2007 ( = kalimat turunan  tunggal)
          b. Saktiawan pemain depan terfavorit dalam Liga Djarum 2007 ( = kalimat turunan tunggal)
          c. Mahyadi pemain tengah terfavorit, sedangkan Saktiawan pemain depan terfavorit dalam Liga Djarum 2007 (= kalimat turunan plural).

Pelesapan artinya penghilangan  gatra atau beberapa gatra dalam kalimat oleh karena hadirnya unsur kalimat yang sama.  Dalam contoh (77) dapat diketahui adanya pelesapan gatra keterangan dalam Liga Djarum 2007  pada salah satu kalimat tunggal yang digabungkan menjadi kalimat plural mengingat adanya kesamaan pada pada kalimat tunggal lain yang digabungkan dengan kalimat tersebut.  
Selanjutnya, berkenaan dengan penggantian, yang dimaksud dengan penggantian di sini adalah penggantian unsur tertentu dalam kalimat dengan kata ganti yang sesuai. Perhatikan contoh berikut:
(78) a. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal).
         b. Sekarang  Budi  mengembalikan uang  kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal)
  c. Pada bulan yang lalu Budi  meminjam uang kepada saya dan sekarang uang  itu sudah dikembalikannya kepada saya ( = kalimat turunan plural)

Apabila dicermati dalam kalimat plural itu terdapat kata dikembalikannya. Bentuk –nya dalam kata tersebut merupakan wujud substitusi dari kata Budi. Kata Budi perlu disubstitusi dengan –nya agar tidak janggal diucapkan karena dalam kalimat turunan plural itu sudah terdapat kata Budi. 
Pengacuan artinya pengacuan unsur tertentu kepada unsur yang lain, baik secara anaforis, yaitu dari kiri ke kanan, maupun secara kataforis, yaitu dari kanan ke kiri.
(79) a. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal)
           b. Sekarang  Budi  mengembalikan uang  kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal)
           c. Pada bulan yang lalu Budi  meminjam uang kepada saya dan sekarang uang  itu sudah dikembalikannya kepada saya (kalimat turuan plural).

Jika diperhatikan, dalam kalimat plural itu terdapat kata itu, yang merupakan sarana pengacuan terhadap uang pinjaman Budi kepada saya.
Pemasifan berarti pemasifan verba transitif yang pada mulanya aktif; yang disebabkan dalam kalimat yang dipasifkan itu  objeknya dijadikan fokus pembicaraan,  sehingga harus dipermutasi atau dipindah ke kiri dan berubah fungsinya menjadi subjek. 
(80)  a. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal)
           b. Sekarang  Budi  mengembalikan uang  kepada saya ( = kalimat turunan  tunggal)
       c. Pada bulan yang lalu Budi  meminjam uang kepada saya dan sekarang uang  itu sudah dikembalikannya kepada saya (= kalimat turunan plural).

Jika dicermati,  dalam kalimat turunan plural (80c) itu terdapat pemasifan  kalimat dari Sekarang  Budi  mengembalikan uang  kepada saya menjadi Sekarang uang  itu sudah dikembalikannya kepada saya.
               
15.3  PEMBENTUKAN KALIMAT TURUNAN PLURAL  SETARA
Kalimat turunan plural setara ialah kalimat yang klausa-klausanya  berkedudukan sederajat, sejajar,  setara (Zaenuddin 1992: 63), selevel, atau setingkat.  Kalimat plural setara disebut juga  kalimat plural koordinatif. Dalam kalimat plural  setara, semua klausanya berupa klausa koordinatif. Menyitir gagasan Rahardi (2004:112) klausa tersebut dinamakan klausa koordinatif karena secara gramatik  dihubungkan secara koordinatif oleh penghubung-penghubung koordinatif  seperti dan, atau, tetapi, lagi pula, lalu, namun, sebaliknya, malahan, dan lain-lain.
Pembentukan kalimat plural setara  dapat terjadi jika ada penggabungan dua klausa atau dua kalimat, baik antara kalimat dasar dan kalimat dasar, antara kalimat dasar dan kalimat turunan tunggal, maupun antardua kalimat turunan tunggal.

15.3.1 Kalimat Turunan Plural Setara dari Hasil Penggabungan Dua Kalimat Dasar

 Penggabungan ini bisa  dilakukan antara kalimat dasar (KD) yang bertipe tertentu dan KD yang bertipe yang lain. Karena dalam bahasa Indonesia terdapat delapan tipe, maka dimungkinkan terjadi penggabungan antartipe yang ada. Dilihat dari kesamaan atau kebedaan subjeknya, penggabungan itu bisa antartipe KD yang memiliki fungsi, kategori, dan peran yang bisa sama atau juga berbeda. Selain itu, jika dilihat dari penggunaan konjungsinya –apabila menggunakan konjungsi—kalimat plural bisa menggunakan konjungsi dan atau konjungsi yang lainnya. Karena itu, dari delapan tipe itu akan muncul delapan kali sekian lipat tipe kalimat plural. Untuk lebih jelasnya, contoh-contoh penggabungan itu dapat dilihat dalam tabel berikut.


Tabel 22a. Kalimat Plural yang Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Dasar dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Sama,  Predikat Berbeda,  Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama (Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan.

NO
KD  I
KD II
KP
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
1
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
(GN1+ G N2) + (GN1+ GN2)
*
2
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN – GA
Damar rajin.
(GN1+ G N2) + (GN – GA)
Damar mahasiswa dan rajin.
3
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN – GVi
Damar belajar.
(GN1+ G N2) + (GN – GVi)
Damar mahasiswa dan belajar.
4
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN– GNum
Damar satu.
(GN1+ G N2) + (GN+ GNum)

*
5
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN-- GPrep
Damar ini untuk meja.
(GN1+ G N2) + (GN+ GPrep)

*
6
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1 -- GVt – GN2
Damar membaca buku.
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+ GN2)
Damar mahasiswa dan membaca buku.
7
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1 -- GVt – GN2 – GN3
Damar merebuskan Andi air.
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+GN2+GN3)
Damar mahasiswa dan merebuskan Andi air.
8
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1 – GVi – GN2
Damar berjualan ide.
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+GN2)
Damar mahasiswa dan berjualan ide.


Tabel 22b.Kalimat Plural yang Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Dasar dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Berbeda, Predikat Sama, Objek Sama (Jika Berobjek), dan Pelengkap Sama (Jika Berpelengkap).
NO
KD  I
KD II
KP
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
1
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1+ GN2
Jati mahasiswa.
(GN1+ G N2) + (GN1+ GN2)
Damar dan Jati mahasiwa.
2
GN – GA
Damar rajin.
GN – GA
Jati rajin.
(GN – GA)+ (GN – GA)
Damar  dan  Jati rajin
3
GN – GVi
Damar belajar.
GN – GVi
Jati belajar.
 (GN – GVi)+ (GN – GVi)
Damar dan Jati belajar.
4
GN– GNum
Damar satu.
GN– GNum
Jati satu.
GN+ GNum)+ GN+ GNum)
Damar satu dan Jati satu.
5
GN-- GPrep
Damar ini untuk meja.
GN-- GPrep
Jati ini untuk meja.
(GN+ GPrep) + (GN+ GPrep)
Damar dan jati ini untuk meja (jati dengan huruf awal kecil)
6
GN1 -- GVt – GN2
Damar membaca buku.
GN1 -- GVt – GN2
Jati membaca buku.
(GN1+ GVt+ GN2)+ (GN1+ GVt+ GN2)
Damar dan Jati membaca buku.
7
GN1 -- GVt – GN2 – GN3
Damar merebuskan Andi air.
GN1 -- GVt – GN2 – GN3
Jati merebuskan Andi air.
 (GN1+ GVt+GN2+GN3)+ (GN1+ GVt+GN2+GN3)
Damar dan Jati merebuskan Andi air.
8
GN1 – GVi – GN2
Damar berjualan ide.
GN1 – GVi – GN2
Jati berjualan ide
 (GN1+ GVt+GN2)+ (GN1+ GVt+GN2)
Damar dan Jati berjualan ide.


15.3.2 Kalimat Turunan Plural dari Hasil Penggabungan Antara Kalimat  Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal
           
Jika kemudian kalimat-kalimat dasar yang ada digabungkan dengan kalimat-kalimat turunan tunggal, maka akan diperoleh kalimat-kalimat plural yang bervariasi pula.
Tabel 23.   Kalimat Plural yang Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal  dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Sama,  Predikat Berbeda,  Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama (Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan, atau,  atau tetapi
NO
KD
KT Tunggal
KP
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
1
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1+ negasi+ GN2+ tanda tanya
Damar bukan mahasiswa.
(GN1+ G N2) + (GN2+ tanda tanya)
Damar mahasiswa atau bukan mahasiswa?
2
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN+negasi+ GA
Damar tidak rajin.
(GN1+ G N2) + GN+negasi+ GA)
Damar mahasiswa, tetapi tidak rajin.
3
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN + negasi+GVi
Damar tidak belajar.
(GN1+ G N2) + (GN + negasi +GVi)
Damar mahasiswa dan tidak belajar.
4
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN+ negasi+ GNum
Damar tidak satu.
(GN1+ G N2) + (GN+ negasi+  GNum)
Damar mahasiswa
dan  tidak satu.
5
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN+ negasi+ GPrep
Meja ini tidak untuk Damar.
(GN1+ G N2) + (GN+ negasi+ GPrep)
Damar mahasiswa dan meja ini tidak untuk Damar.
6
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1 + GVt + negasi+GN2
Damar  tidak membaca buku.
(GN1+ G N2) + (GN1+ negasi+ GVt+ GN2)
Damar mahasiswa dan tidak membaca buku.
7
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1  + modalitas + GVt + GN2 + GN3
Damar  mau merebuskan Andi air.
(GN1+ G N2) + (GN1+ modalitas GVt+GN2+GN3)
Damar mahasiswa dan mau merebuskan Andi air.
8
GN1+ GN2
Damar mahasiswa.
GN1 + aspek+ GVi – GN2
Damar selalu berjualan ide.
(GN1+ G N2) + (GN1+aspek GVt+GN2)
Damar mahasiswa dan selalu berjualan ide.

15.3.3 Kalimat Turunan Plural dari Hasil Penggabungan Antardua Kalimat Turunan Tunggal

Tabel 24.   Kalimat Plural yang Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal  dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Berbeda,  Predikat Berbeda,  Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama (Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan, atau,  atau tetapi
NO
KT Tunggal
KT Tunggal
KP
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
KAIDAH
CONTOH
1
GN1+ negasi+ GN2+ tanda tanya
Damar bukan mahasiswa.
GN1+ negasi+ GN2+ tanda tanya
Jati bukan mahasiswa.
(GN1+ G N2) + (GN1+negasi+ GN2+ +tanda tanya)
Damar  dan Jati  bukan mahasiswa.
2
GN+negasi+ GA
Damar tidak rajin.
GN+negasi+ GA
Jati tidak rajin.
(GN1+ GA) + (GN+negasi+ GA)
Damar dan Jati  tidak rajin.
3
GN + negasi+GVi
Damar tidak belajar.
GN + negasi+GVi
Jati tidak belajar.
(GN1+ G N2) + (GN+negasi+ GVi)
Damar dan Jati  tidak belajar.
4
GN+ negasi+ GNum
Damar tidak satu.
GN+ negasi+ GNum
Jati tidak satu.
(GN1+ G N2) + (GN+negasi+ GNum)
Damardan Jati tidak satu.
5
GN+ negasi+ GPrep
Meja ini bukan untuk Damar.
GN+ negasi+ GPrep
 Meja ini bukan untuk Jati.
(GN1+ G N2) + (GN+negasi+GPrep)
Meja ini bukan  untuk Damar dan Jati.
6
GN1 + GVt + negasi+GN2
Damar  tidak membaca buku.
GN1 + GVt + negasi+GN2
Jati  tidak membaca buku.
(GN1+ G V2) + (GN1+negasi+ GVt+ GN2)
Damar  dan Jati tidak membaca buku.
7
GN1 + GVt + modalitas + GN2 + GN3
Damar  tidak merebuskan Andi air.
GN1  + modalitas + GVt + GN2 + GN3
Jati  mau merebuskan Andi air.
(GN1+ G V2) + (GN1+modalitas+ Vt+GN2+GN3)
Damar dan Jati mau merebuskan Andi air.
8
GN1 + aspek+ GVi – GN2
Damar selalu berjualan ide.
GN1 + aspek+ GVi – GN2
Jati selalu berjualan ide.
(GN1+ aspek+G Vt + (GN1+ aspek+ GVt+GN2)
Damar dan Jati selalu berjualan ide.


Untuk memperdalam pemahaman, berikut ini diberikan beberapa contoh lainnya.
(81)   a. Tersenyum akan menggerakkan otot-otot wajah sebanyak tiga belas  buah. (= kalimat turunan tunggal)
 b.   Menampilkan wajah yang jernih akan menggerakkan otot-otot wajah sebanyak 13 buah (= kalimat turunan tunggal)      
c.    Merengut  akan menggerakkan otot-otot wajah  kira-kira sebanyak 47 otot. (= kalimat turunan tunggal)
d.   Cemberut akan menggerakkan otot-otot wajah  kira-kira sebanyak 47 otot. (= kalimat turunan tunggal)
e.   Tersenyum dan menampilkan wajah yang jernih akan menggerakkan otot-otot wajah sebanyak 13 buah, sedangkan  merengut atau cemberut akan menggerakkan kira-kira 47 otot. (= kalimat turunan plural setara)

(82)  a.   Prof. Dr. Slametmuljana lahir pada  tanggal 21 Maret 1922 di Yogyakarta. (= kalimat turunan tunggal)
           b.  Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1950). (= kalimat turunan    tunggal)
           c.  Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Indonesia (1952). (= kalimat turunan tunggal)
           d.  Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Louvain, Belgia (1954). (= kalimat turunan tunggal)
           e.  Prof. Dr. Slametmuljana lahir pada  tanggal 21 Maret 1922 di Yogyakarta dan merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1950), Universitas Indonesia (1952), dan Universitas Louvain, Belgia (1954). (= kalimat turunan  plural setara)

Jika diperhatikan dengan cermat, pada contoh (81), konstruksi (81a-81d) yang masing-masing merupakan kalimat turunan tunggal jika digabungkan dalam sebuah kalimat akan membentuk sebuah kalimat turunan plural, yaitu kalimat (81e). Demikain juga pada contoh (82), konstruksi (82a-82d) yang masing-masing merupakan kalimat turunan tunggal jika digabungkan dalams ebuah kalimat akan membentuk sebuah kalimat turunan plural, yaitu kalimat (82e).

 

10.4 JENIS-JENIS KALIMAT TURUNAN PLURAL SETARA

            Berdasarkan pendapat  Verhaar (1999:282), bahwa  klausa koordinatif terdiri atas (1) koordinasi netral, (2) koordinasi   kontrastif, (3) koordinasi alternatif, dan (4) koordinasi konsekutif, maka kalimat turunan plural setara juga dapat dibedakan menjadi empat, yaitu (1) kalimat turunan plural setara netral, (2) kalimat turunan plural setara kontrastif, (3) kalimat turunan plural setara alternatif, dan (4) kalimat turunan plural setara konsekutif;  yang berturut-turut dapat dicontohkan sebagai berikut.
(83) Saya menulis artikel itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa.
(84) Mencari ilmu itu menantang, tetapi mengamalkannya jauh lebih menantang.
(85) Saudara mau bekerja atau  melanjutkan studi ke jenjang S-2?
(86) Harga sepeda motor itu relatif mahal; jadi perlu diangsur.
Kalimat turunan plural setara netral dapat disebut juga kalimat turunan plural aditif. Kalimat turunan plural setara  aditif Saya menulis artikel itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa  memiliki tiga klausa koordinatif yang dihubungkan dengan konjungsi koordinatif dan  dengan pelesapan S atau O. Klausa-klausa itu kalau dijabarkan adalah sebagai berikut: (1) Saya menulis artikel itu, (2) Saya menyunting artikel itu, dan (3) Saya  mengirimkan artikel itu  ke media massa. Dengan beranalog pada penjelasan kalimat (345), kalimat-kalimat berikutnya pun dapat   diketahui klausa-klausanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar