PERKULIAHAN XV
KALIMAT TURUNAN PLURAL SETARA
(MAJEMUK SETARA)
RINGKASAN MATERI
15.1 PENGERTIAN DAN PERISTILAHAN KALIMAT TURUNAN
PLURAL
Kalimat turunan plural adalah kalimat
turunan yang dibentuk dengan penambahan klausa. Kalimat ini bisa disebut
dengan kalimat plural saja. Pemakaian kata turunan dalam frase kalimat turunan plural hanya
dimaksudkan untuk menyejajarkan pola dengan kalimat dasar. Dalam hal ini,
istilah kalimat turunan ditarik dari adanya istilah kalimat dasar.
Kalimat turunan ialah kalimat yang merupakan transformasi (penurunan) dari
kalimat dasar. Selanjutnya sebagaimana diketahui, kalimat (turunan) itu jika
dilihat dari jumlah klausanya dapat dibedakan menjadi kalimat turunan tunggal
dan kalimat turunan plural. Dari sinilah munculnya istilah kalimat turunan
tunggal dan kalimat turunan plural itu.
Sebagian
linguis Indonesia termasuk di antaranya para penyusun Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia (Alwi, dkk 2003:398) dan penulis Asas-asas
Linguistik Umum (Verhaar, dkk 1999:275), menyebutnya dengan kalimat majemuk.
Akan tetapi, sebagian lain dari mereka, misalnya Ramlan (1987:49), Rahardi
(2004:111) mengistilahkannya dengan kalimat luas. Dalam hal ini,
Rahardi misalnya, membedakan istilah kalimat
kalimat luas dengan kalimat
kompleks dan kalimat majemuk. Menurutnya (2004:111), kalimat luas ialah kalimat
yang terdiri atas dua klausa atau lebih; kalimat kompleks ialah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa
uatam dan satu atau lebih klausa subordinatif; dan kalimat
majemuk ialah kalimat yang terdiri dari dua
atau lebih klausa utama, dengan atau tanpa klausa subordinatif.
Chaer, dalam Linguistik Umum (1994:247)
menyebut kalimat yang memiliki dua klausa dengan kalimat
majemuk, tetapi dalam Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia (2000:327)
dengan kalimat luas, dengan memerinci kalimat luas menjadi kalimat luas
rapatan, kalimat luas bersisipan,
kalimat luas setara, kalimat luas
bertingkat, dan kalimat luas kompleks.
Jadi, di sini ada juga istilah kalimat luas kompleks.
Selain itu, paling tidak ada seorang ahli
lagi, yaitu Tarigan, mempunyai konsep
yang khas pula tentang peristilahan
kalimat yang dibentuk dari penggabungan klausa, dengan mengemukan dua istilah, yaitu kalimat bersusun dan kalimat
majemuk. Menurut Tarigan (1985:5), kalimat bersusun adalah kalimat yang terdiri dari satu
klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu
klausa terikat, sedangkan kalimat majemuk ialah kalimat
yang terdiri atas beberapa klausa bebas.
Dalam handout ini, untuk menyebut kalimat yang
terbentuk dari dua klausa atau lebih dengan istilah kalimat plural dengan
mempertimbangkan paling tidak dua alasan. Pertama, menyangkut istilah kalimat
luas. Istilah kalimat luas
kurang tepat jika dioposisikan dengan kalimat tunggal. Istilah itu
sebaiknya dioposisikan dengan kalimat inti. Sejatinya, tidak salah jika kalimat
luas itu merupakan kalimat plural, namun yang jadi masalah adalah bahwa tidak
semua kalimat luas itu berupa kalimat plural, bahkan pada umumnya berupa
kalimat tunggal. Oleh karena itu, pemakaian istilah kalimat luas untuk sinonim
kalimat plural kuranglah tepat. Dalam hal ini malah lebih baik dipakai istilah
kalimat majemuk.
Kedua, berkenaan dengan istilah
kalimat majemuk. Istilah kalimat majemuk --yang meski sudah
sangat memasyarakat itu-- dipandang kurang tepat jika yang dimaksudkan adalah
kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih. Istilah majemuk yang
sebenarnya diserap dari bahasa Arab itu mengandung pengertian ‘tiga atau
lebih’, bukan ‘dua atau lebih’. Majemuk
artinya sesuatu yang di-jamak-kan. Jamak dalam bahasa asalnya
(Arab) mengandung arti ‘tiga atau
lebih’. Konsep ‘dua-an’ dalam bahasa Arab ada istilahnya sendiri, yaitu musanna.
Dengan demikian, diperlukan istilah baru
dan yang dipakai di sini adalah istilah kalimat plural, yang diserap
dari bahasa Inggris. Istilah ini dipandang sebagai istilah yang paling tepat
untuk kalimat yang terbentuk dari dua klausa atau lebih,
mengingat konsep plural yang diserap dari bahasa Inggris itu berarti ‘dua atau lebih’, bukan ‘tiga atau
lebih’. Jadi, kalimat plural ialah kalimat yang
mengandung dua klausa atau lebih dari dua klausa.
15.2 SARANA
PEMBENTUK KALIMAT TURUNAN PLURAL
Sarana yang perlu hadir dalam
pembentukan kalimat turunan plural adalah:
(1)
perangkaian atau konjungsi,
(2)
pelesapan atau elipsis,
(3)
penggantian atau substitusi,
(4)
pengacuan atau referensi, dan
(5)
pemasifan.
Yang dimaksud dengan perangkaian di sini ialah munculnya kata perangkai atau
penghubung yang dapat menghubungkan
kedua klausa dalam kalimat turunan plural, baik dalam kalimat turunan plural
setara maupun dalam kalimat turunan
plural bertingkat. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut ini.
(77) a. Mahyadi pemain tengah terfavorit dalam Liga
Djarum 2007 ( = kalimat turunan tunggal)
b. Saktiawan pemain depan terfavorit
dalam Liga Djarum 2007 ( = kalimat turunan tunggal)
c. Mahyadi pemain tengah terfavorit,
sedangkan Saktiawan pemain depan terfavorit dalam Liga Djarum 2007 (= kalimat
turunan plural).
Pelesapan artinya penghilangan gatra atau beberapa gatra dalam kalimat oleh
karena hadirnya unsur kalimat yang sama.
Dalam contoh (77) dapat diketahui adanya pelesapan gatra keterangan dalam
Liga Djarum 2007 pada salah satu
kalimat tunggal yang digabungkan menjadi kalimat plural mengingat adanya
kesamaan pada pada kalimat tunggal lain yang digabungkan dengan kalimat
tersebut.
Selanjutnya, berkenaan dengan penggantian, yang dimaksud
dengan penggantian di sini adalah penggantian unsur tertentu dalam kalimat
dengan kata ganti yang sesuai. Perhatikan contoh berikut:
(78) a. Pada bulan yang
lalu Budi meminjam uang kepada saya ( = kalimat turunan tunggal).
b. Sekarang Budi
mengembalikan uang kepada saya (
= kalimat turunan tunggal)
c. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya dan sekarang
uang itu sudah dikembalikannya kepada
saya ( = kalimat turunan plural)
Apabila dicermati dalam kalimat plural itu terdapat kata
dikembalikannya. Bentuk –nya dalam kata tersebut merupakan wujud
substitusi dari kata Budi. Kata Budi perlu disubstitusi dengan –nya
agar tidak janggal diucapkan karena dalam kalimat turunan plural itu sudah
terdapat kata Budi.
Pengacuan artinya pengacuan unsur tertentu kepada unsur
yang lain, baik secara anaforis, yaitu dari kiri ke kanan, maupun secara
kataforis, yaitu dari kanan ke kiri.
(79) a. Pada bulan yang
lalu Budi meminjam uang kepada saya ( = kalimat turunan tunggal)
b. Sekarang Budi
mengembalikan uang kepada saya (
= kalimat turunan tunggal)
c. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya dan sekarang
uang itu sudah dikembalikannya kepada
saya (kalimat turuan plural).
Jika diperhatikan, dalam kalimat plural itu terdapat
kata itu, yang merupakan sarana pengacuan terhadap uang pinjaman Budi
kepada saya.
Pemasifan berarti pemasifan verba transitif yang pada
mulanya aktif; yang disebabkan dalam kalimat yang dipasifkan itu objeknya dijadikan fokus pembicaraan, sehingga harus dipermutasi atau dipindah ke kiri
dan berubah fungsinya menjadi subjek.
(80) a. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang
kepada saya ( = kalimat turunan tunggal)
b. Sekarang Budi
mengembalikan uang kepada saya (
= kalimat turunan tunggal)
c. Pada bulan yang lalu Budi meminjam uang kepada saya dan sekarang
uang itu sudah dikembalikannya kepada
saya (= kalimat turunan plural).
Jika dicermati,
dalam kalimat turunan plural (80c) itu terdapat pemasifan kalimat dari Sekarang Budi
mengembalikan uang kepada saya
menjadi Sekarang uang itu sudah
dikembalikannya kepada saya.
15.3 PEMBENTUKAN KALIMAT
TURUNAN PLURAL SETARA
Tabel 22a. Kalimat Plural yang
Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Dasar dengan Matriks KD
yang Bertipe GN1+
GN2. dengan
Subjek Sama, Predikat Berbeda, Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama
(Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan.
|
NO
|
KD I
|
KD II
|
KP
|
|||
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
|
|
1
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
(GN1+ G N2) + (GN1+ GN2)
|
*
|
|
2
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN – GA
|
Damar rajin.
|
(GN1+ G N2) + (GN – GA)
|
Damar mahasiswa dan rajin.
|
|
3
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN – GVi
|
Damar belajar.
|
(GN1+ G N2) + (GN – GVi)
|
Damar mahasiswa dan belajar.
|
|
4
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN– GNum
|
Damar satu.
|
(GN1+ G N2) + (GN+ GNum)
|
*
|
|
5
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN-- GPrep
|
Damar ini untuk meja.
|
(GN1+ G N2) + (GN+ GPrep)
|
*
|
|
6
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN1 -- GVt – GN2
|
Damar membaca buku.
|
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+ GN2)
|
Damar mahasiswa dan membaca buku.
|
|
7
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN1 -- GVt – GN2
– GN3
|
Damar merebuskan Andi air.
|
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+GN2+GN3)
|
Damar mahasiswa dan merebuskan Andi air.
|
|
8
|
GN1+ GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN1 – GVi – GN2
|
Damar berjualan ide.
|
(GN1+ G N2) + (GN1+ GVt+GN2)
|
Damar mahasiswa dan berjualan ide.
|
Tabel 22b.Kalimat
Plural yang Terbentuk dari Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Dasar dengan
Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Berbeda, Predikat Sama, Objek Sama (Jika
Berobjek), dan Pelengkap Sama (Jika Berpelengkap).
|
NO
|
KD I
|
KD II
|
KP
|
|||
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
|
|
1
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN1+
GN2
|
Jati
mahasiswa.
|
(GN1+
G N2) + (GN1+ GN2)
|
Damar dan Jati mahasiwa.
|
|
2
|
GN
– GA
|
Damar
rajin.
|
GN
– GA
|
Jati
rajin.
|
(GN
– GA)+ (GN – GA)
|
Damar dan
Jati rajin
|
|
3
|
GN
– GVi
|
Damar belajar.
|
GN
– GVi
|
Jati belajar.
|
(GN – GVi)+ (GN – GVi)
|
Damar
dan Jati belajar.
|
|
4
|
GN– GNum
|
Damar
satu.
|
GN– GNum
|
Jati
satu.
|
GN+
GNum)+ GN+ GNum)
|
Damar satu dan Jati satu.
|
|
5
|
GN-- GPrep
|
Damar
ini untuk meja.
|
GN-- GPrep
|
Jati
ini untuk meja.
|
(GN+
GPrep) + (GN+ GPrep)
|
Damar dan jati ini untuk meja (jati
dengan huruf awal kecil)
|
|
6
|
GN1 -- GVt – GN2
|
Damar
membaca buku.
|
GN1 -- GVt – GN2
|
Jati
membaca buku.
|
(GN1+
GVt+ GN2)+ (GN1+ GVt+ GN2)
|
Damar
dan Jati membaca buku.
|
|
7
|
GN1 -- GVt – GN2 – GN3
|
Damar
merebuskan Andi air.
|
GN1 -- GVt – GN2 – GN3
|
Jati
merebuskan Andi air.
|
(GN1+ GVt+GN2+GN3)+
(GN1+ GVt+GN2+GN3)
|
Damar
dan Jati merebuskan Andi air.
|
|
8
|
GN1 – GVi – GN2
|
Damar
berjualan ide.
|
GN1 – GVi – GN2
|
Jati
berjualan ide
|
(GN1+ GVt+GN2)+ (GN1+
GVt+GN2)
|
Damar
dan Jati berjualan ide.
|
15.3.2 Kalimat Turunan
Plural dari Hasil Penggabungan Antara Kalimat
Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal
Jika kemudian kalimat-kalimat dasar yang ada digabungkan
dengan kalimat-kalimat turunan tunggal, maka akan diperoleh kalimat-kalimat
plural yang bervariasi pula.
Tabel 23. Kalimat Plural yang Terbentuk dari
Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Sama, Predikat Berbeda, Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama
(Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan, atau, atau tetapi
|
NO
|
KD
|
KT Tunggal
|
KP
|
|||
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
|
|
1
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN1+
negasi+ GN2+ tanda tanya
|
Damar
bukan mahasiswa.
|
(GN1+
G N2) + (GN2+ tanda tanya)
|
Damar mahasiswa atau bukan mahasiswa?
|
|
2
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN+negasi+
GA
|
Damar
tidak rajin.
|
(GN1+
G N2) + GN+negasi+ GA)
|
Damar
mahasiswa, tetapi tidak rajin.
|
|
3
|
GN1+
GN2
|
Damar mahasiswa.
|
GN
+ negasi+GVi
|
Damar tidak belajar.
|
(GN1+
G N2) + (GN + negasi +GVi)
|
Damar
mahasiswa dan tidak belajar.
|
|
4
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN+ negasi+ GNum
|
Damar
tidak satu.
|
(GN1+
G N2) + (GN+ negasi+ GNum)
|
Damar mahasiswa
dan tidak satu.
|
|
5
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN+ negasi+ GPrep
|
Meja
ini tidak untuk Damar.
|
(GN1+
G N2) + (GN+ negasi+ GPrep)
|
Damar mahasiswa dan meja ini tidak untuk
Damar.
|
|
6
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN1 + GVt + negasi+GN2
|
Damar tidak membaca buku.
|
(GN1+
G N2) + (GN1+ negasi+ GVt+ GN2)
|
Damar
mahasiswa dan tidak membaca buku.
|
|
7
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN1 + modalitas +
GVt + GN2 + GN3
|
Damar mau merebuskan Andi air.
|
(GN1+
G N2) + (GN1+ modalitas GVt+GN2+GN3)
|
Damar
mahasiswa dan mau merebuskan Andi air.
|
|
8
|
GN1+
GN2
|
Damar
mahasiswa.
|
GN1 + aspek+ GVi – GN2
|
Damar
selalu berjualan ide.
|
(GN1+
G N2) + (GN1+aspek GVt+GN2)
|
Damar
mahasiswa dan selalu berjualan ide.
|
15.3.3 Kalimat Turunan
Plural dari Hasil Penggabungan Antardua Kalimat Turunan Tunggal
Tabel 24. Kalimat Plural yang Terbentuk dari
Penggabungan Kalimat Dasar dan Kalimat Turunan Tunggal dengan Matriks KD yang Bertipe GN1+ GN2. dengan Subjek Berbeda, Predikat Berbeda, Objek Sama (Jika Berobjek), Pelengkap Sama
(Jika Berpelengkap) dengan Pemakaian Konjungsi dan, atau, atau tetapi
|
NO
|
KT Tunggal
|
KT Tunggal
|
KP
|
|||
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
KAIDAH
|
CONTOH
|
|
|
1
|
GN1+
negasi+ GN2+ tanda tanya
|
Damar
bukan mahasiswa.
|
GN1+
negasi+ GN2+ tanda tanya
|
Jati
bukan mahasiswa.
|
(GN1+
G N2) + (GN1+negasi+ GN2+ +tanda tanya)
|
Damar
dan Jati bukan mahasiswa.
|
|
2
|
GN+negasi+
GA
|
Damar
tidak rajin.
|
GN+negasi+
GA
|
Jati
tidak rajin.
|
(GN1+
GA) + (GN+negasi+ GA)
|
Damar
dan Jati tidak rajin.
|
|
3
|
GN
+ negasi+GVi
|
Damar tidak belajar.
|
GN
+ negasi+GVi
|
Jati tidak belajar.
|
(GN1+
G N2) + (GN+negasi+ GVi)
|
Damar
dan Jati tidak belajar.
|
|
4
|
GN+ negasi+ GNum
|
Damar
tidak satu.
|
GN+ negasi+ GNum
|
Jati
tidak satu.
|
(GN1+
G N2) + (GN+negasi+ GNum)
|
Damardan Jati tidak satu.
|
|
5
|
GN+ negasi+ GPrep
|
Meja
ini bukan untuk Damar.
|
GN+ negasi+ GPrep
|
Meja ini bukan untuk Jati.
|
(GN1+
G N2) + (GN+negasi+GPrep)
|
Meja ini bukan untuk Damar dan Jati.
|
|
6
|
GN1 + GVt + negasi+GN2
|
Damar tidak membaca buku.
|
GN1 + GVt + negasi+GN2
|
Jati tidak membaca buku.
|
(GN1+
G V2) + (GN1+negasi+ GVt+ GN2)
|
Damar dan Jati tidak membaca buku.
|
|
7
|
GN1 + GVt + modalitas + GN2 + GN3
|
Damar tidak merebuskan Andi air.
|
GN1 + modalitas +
GVt + GN2 + GN3
|
Jati mau merebuskan Andi air.
|
(GN1+
G V2) + (GN1+modalitas+ Vt+GN2+GN3)
|
Damar
dan Jati mau merebuskan Andi air.
|
|
8
|
GN1 + aspek+ GVi – GN2
|
Damar
selalu berjualan ide.
|
GN1 + aspek+ GVi – GN2
|
Jati
selalu berjualan ide.
|
(GN1+
aspek+G Vt + (GN1+ aspek+ GVt+GN2)
|
Damar
dan Jati selalu berjualan ide.
|
Untuk memperdalam pemahaman, berikut ini
diberikan beberapa contoh lainnya.
(81) a. Tersenyum akan menggerakkan otot-otot
wajah sebanyak tiga belas buah. (=
kalimat turunan tunggal)
b.
Menampilkan wajah yang jernih akan menggerakkan otot-otot wajah sebanyak
13 buah (= kalimat turunan tunggal)
c. Merengut
akan menggerakkan otot-otot wajah
kira-kira sebanyak 47 otot. (= kalimat turunan tunggal)
d. Cemberut akan menggerakkan otot-otot
wajah kira-kira sebanyak 47 otot. (=
kalimat turunan tunggal)
e. Tersenyum dan menampilkan wajah yang jernih
akan menggerakkan otot-otot wajah sebanyak 13 buah, sedangkan merengut atau cemberut akan menggerakkan
kira-kira 47 otot. (= kalimat turunan plural setara)
(82) a.
Prof. Dr. Slametmuljana lahir pada
tanggal 21 Maret 1922 di Yogyakarta. (= kalimat turunan tunggal)
b.
Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(1950). (= kalimat turunan tunggal)
c.
Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Indonesia (1952). (= kalimat
turunan tunggal)
d.
Prof. Dr. Slametmuljana alumnus Universitas Louvain, Belgia (1954). (=
kalimat turunan tunggal)
e.
Prof. Dr. Slametmuljana lahir pada
tanggal 21 Maret 1922 di Yogyakarta dan merupakan alumnus Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta (1950), Universitas Indonesia (1952), dan Universitas
Louvain, Belgia (1954). (= kalimat turunan
plural setara)
Jika diperhatikan dengan cermat, pada
contoh (81), konstruksi (81a-81d) yang masing-masing merupakan kalimat turunan
tunggal jika digabungkan dalam sebuah kalimat akan membentuk sebuah kalimat
turunan plural, yaitu kalimat (81e). Demikain juga pada contoh (82), konstruksi
(82a-82d) yang masing-masing merupakan kalimat turunan tunggal jika digabungkan
dalams ebuah kalimat akan membentuk sebuah kalimat turunan plural, yaitu
kalimat (82e).
10.4 JENIS-JENIS KALIMAT TURUNAN PLURAL
SETARA
Kalimat turunan plural setara netral
dapat disebut juga kalimat turunan plural aditif. Kalimat turunan plural
setara aditif Saya menulis artikel
itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa memiliki tiga klausa koordinatif yang
dihubungkan dengan konjungsi koordinatif dan dengan pelesapan S atau O. Klausa-klausa itu
kalau dijabarkan adalah sebagai berikut: (1) Saya menulis artikel itu, (2)
Saya menyunting artikel itu, dan (3) Saya mengirimkan artikel itu ke media massa. Dengan beranalog pada
penjelasan kalimat (345), kalimat-kalimat berikutnya pun dapat diketahui klausa-klausanya.