ASinopsis
Novel Azab dan Sengsara
Novel Azab dan Sengsara
menceritakan kisah cinta antara Mariamin dan Aminu’ddin. Suatu ketika disebuah Kota
Sipirok terdapat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang ibu yang
bernama Nuriah.Dia memiliki dua orang anak.Anak yang pertama seorang gadis yang
bernama Mariamin.Kemudian anak keduanya masih berusia empat tahun.Mereka
tinggal digubuk kecil dekat sungai Sipirok yang hidupnya penuh dengan kemelaratan.Ditambah
dengan keadaan ibu Mariamin yang hidupnya dalam keadaan sakit parah. Ayah Mariamin
yang bernama Sutan Baringin sudah meninggal dunia.Saat itu Mariamin dan
Aminu’ddin sudah berteman sejak mereka masih kecil.Namun mereka dari keluarga
yang berbeda.Ayah Aminu’ddin adalah seorang kepala kampung Siporok yang kaya
dan terhormat, sedangkan Mariamin hidup dalam kemelaratan bersama Ibunya.
Kemelaratan itu bermula
ketika sang ayah Sutan Baringin meninggal.Karena ketika ayah Mariamin masih hidup
Sutan Baringin seorang yang terbilang
hartawan lagi bangsawan diseluruh penduduk Sipirok.Dia juga memiliki rumah yang
mewah, sawah yang luas, dan binatang ternak yang banyak. Akan tetapi karena dia
suka beperkara, maka harta yang banyak itu habis tak tersisa akibat ulah Sutan
Baringin itu sendiri.Sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos
perkara, dan pa akhirnya jatuh miskin.Sutan Baringin semasa hidupnya dia juga
tekenal dengan orang yang sangat boros dan serakah.Sikap yang demikian itu
diakibatkan oleh kesalah asuhan keluarganya terhadap Sutan Baringin pada saat
dia masih kecil. Sudah berkali-kali istrinya melarang sutan Baringin, supaya
berhenti beperkara, tetapi dia juga masih melakukannya.Namun Sutan Baringin menutup
telinganya, tidak hendk mendengarkan kata istrinya ,meskipunperempuan yang baik
itu mengingatkan suaminya.Segala bujuk dan nasihat, yang diucapkan istrinya
sia-sia.
Keika Aminu’ddin, dia
adalah sosok anak yang amat rajin belajar,baikdisekolahatau dirumah sehingga
banyak orang yang sayang terhadap Aminu’ddin.Meskipun Aminu’ddin anak dari
seorang kepala kampung yang kaya dan terhormat tetapi dia tidak pernah
sedikitpun sombong terhadap orang lain.Dia tidak dapat pernah menahan nafsunya
,yaitu nafsu untuk selalu menolong orang lain.Dia juga seorang yang bijaksana,
adat,dan kelakuannya baik dan halus budi bahasanya.Itu membuat Mariamin sangat
suka bercampur dengan Aminu’ddin dan Mariamin juga sangat suka dengan
cerita-cerita Aminu’ddin.Begitupunjuga Maryamin yang memilki sifat
cerdik,pengiba, dan suka berpikir.Mereka selalu bersama ketika pulang ataupun
pergi ke sekolah ataupun ketika ketikabersama-sama disawah,karena sawah orang
tua mereka berbatasan.Ketika diawah mereka pun saling bantu membantu melakukan
kegiatannya tersebut.Kebersamaan dan pertemanan itu berlanjut sampai mereka
dewasa.Dan akhirnya mereka mengerti akan percintaan.
Meskipun Mariamin hidup
dalam kemelaratan tidak menghalangi niat Aminu’din untuk menikahi Mariamin.Aminu’ddin
sama sekali tidak mempemasalahkan keadaan Mariamin. Karena pertemanan yang
dibina Mariamin dengan Aminu’ddin dari mereka masih kecil telah menumbuhkan
perasaan cinta antara insan berdua itu.Suatu ketika Aminu’ddin telah
mendapatkan pekerjaan di Medan, dia mengutarakan niatnya untuk menikahi Mariamin.Ibu
Mariamin pun setuju akan hal itu.Karena dia merasa telah berutang nyawa
terhadap Aminu’ddin yang telah menyelamatkan Mariamin ketika terjatuh ke
sungai. Kemudian Pada saat itu pula Aminu’ddin akan pergi merantau ke Medan
untuk bekerja, dan mewujudkan cita-citanya yaitu menikahi Mariamin.Ketika
Aminu’ddin pergi merantau Mariaminpun dilanda kesedihan yang sangat dalam.Ia
tak lagi dapat berkata-kata, karena tangisnya menyumbat tenggorokan, dan air
matanya bercucuran pada pipi yang halus itu, jatuh ke banta guling.karena dia
mengingat akan kenang kenangan yang telah mereka lakukan disetiap harinya
secara bersama-sama.
Namun ayah Aminu’ddin
tidak menyetujui akan hal pernikahan antara Maryamin dengan Aminu’ddin.Karena
pernikahan Aminu’ddin dan Mariamin dianggap akan merendahkan derajat
keluarganya.Menurut ayahnya Aminu’ddin lebih pantas menikah dengan wanita lain.”Karena
dalam masyarakat Batak Angkola yang menganut sistem seorang ayah berhak dalam
menentukan calon pendaming bagi anaknya”.Maka tanpa sepengetahuan Aminu’ddin
ayahnya meminang seorang gadis yang berasal dari keluarga bangsawan
kaya.Melalui surat bahwa Calon Istrinya akan segera dibawa ke Medan, tempat
Aminu’ddin bekerja.Aminu’ddin sangat gembira mendengar kabar itu.Sudah sekian
lama dia membayangkan untuk bisa menikahi Mariamin.Dengan penuh kegembiraan
Aminu’ddin berharap bahwa calon istri yang dibawakan ayahnya itu adalah
Maryamin.
Tiba saatnya yang
ditunggu-tunggu oleh Aminu’ddin.Jam sepulu merupakan saat yang nikmat yang akan
diterima oleh Aminu’ddin.Bunyi kereta pun kedengaran semakin dekat,asap yang
berkebul-kebul beterbangan ke kanan dan kekiri,akhirnya keretapun memasuki stasiun
dengan sear yang sangat keras yang mengakibatkan tanah bergetar.Kini Aminu’ddin
kian berharap bahwa yang datang adalah Mariamin kekasih hatinya.Hati Aminu’ddin
berdebar –debar ketika melihat ayahnya turun dari kereta.Aminu’ddin berlari
menghampiri ayahnya.Saat itu nikmat Aminu’ddin berganti dengan kekecewaan
karena yang dibawa ayahnya bukanlah Mariamin kekasih hatinya melainkan wanita
lain.
Meskipun
kecewa,Aminuddin tak dapat menolak keingina ayahnya.Karena jika Aminu’ddin
menolak menikahi gadis itu maka dia akan memalukan keluarganya.Akhirnya dengan
terpaksa Aminu’ddin menikah dengan gadis pilihan ayahnya.Seusai
pernikahan,Aminu’ddin pun berkirim surat terhadap mariamin sebagai permintaan
maaf.Dengan kesedihan dan kekecewaan Aminu’ddin pun menulis surat untuk
Maiamin.Setelah sebulan perkawinan Aminu’ddin ayah dan ibu Aminu’din pulang ke
Sipirok mereka harus membawa pesan dari Aminu’ddin yang mana pesan itu wajib
disampaikan.Pesan itu adalah “setelah sampai di Siporok,ia dan istrinya harus
membawakan nasibungkus ke rumah ibu Mariamin.Dan meminta maaf karena Aminu’ddin
telah berjanji dengan Mariamin akan menikahinya.Dan juga sebagai permintaan
maaaf mereka harus memberikan seekor sapi dan kerbau kepada ibu Mariamin.”
Selang beberapa waktu
Mariamin mendapatkan surat dari Medan surat itu yang ditulis oleh Aminu’ddin
seusai pernikahan.Belum habis mariamin membaca surat itu, mukanya sudah pucat,
keringatnya mengalir pada seluruh badannya.Tak kuasa menahan semua itu akhirnya
Maryamin pun pingsan tiada bergerak sambil dipegangnya erat-etrat surat dari
Aminu’ddin itu. Dan beberapa hari Mariamin sangat terpukul atas kejadian itu
dan akhirnya pun jatuh sakit.
Tepat pada hari
pertama, setlah Mariamin Sembuh kedua orang tua Aminu’ddin pun datang dengan
membawakan nasi bungkus ke rumah ibu Mariamin.Dengan muka yang ramah Mariamin
mengajak masuk dan ia mempersilahkan tamu itu duduk diaas tikar.Kemudian
mariamin mengeluarkan kopi serta makanan yang ada dirumahnya.Mariaminpun dengan
hormat mempersilahkan makan dan minum seraya Mariamin pergi memanggil ibunya.
Melihat perbuatan Mariamin kedua orang tua Aminu’ddin menyesal.Mariamin
bersenang hati karena dia mendengarka janji mulia dari ayah Aminu’ddin bahwa mereka akan mengubah kelakuan yang
selama ini diperbuat, dan tali persaudaraan yang tak kan terputus ,melainkan
tambah diperkuat dalam hati mereka.Kemudian mariamin mengambil surat dari
Aminu’ddin dan membaca dengan tenang dan merobek surat itu dan membalas surat
itu dan akan memenuhi permintaan Aminu’ddin dengan seikhlas-ikhlasnya.
Tak lama kemudian
Mariamin pun menikah dengan Kasibun lelaki pilihan ibunya.Mariamin tak dapat
menolak permintaan ibunya untuk menikah,dan Akhirnya Mariamin pun dengan
terpaksa menikah dengan Kasibun.Ibunya berharap kalau pernikahan itu akan
mengurangi penderitaan Mariamin.Setelah pernikahannya Mariamin pun bersama-sama
suaminya ke Medan.Kasibun pun tak dapak menguasai tubuh Mariamin karena Kasibun
mempunyai penyakit yang berbahaya yang dapat menular.Mariamin pun selalu
menolak jika Kasibun ingin menguasai tubuhnya.Mariamin meminta agar penyakit
Kasibunitu disembuhkan terlebih dahulu.
Pada saat itu kota
Medan sangat ramai.Aminu’ddin yang pada saat itu mengetahui kalau Mariamin ada
di kota Meda,saat itu pula Aminu’ddin berkunjung kerumah Mariamin.Ketika itu
suamin Mariamin Kasibun tidak ada di rumah.Kedatangan Aminuddin itu membuat
ceburu Kasibun.maka sejak itulah timpul pemikiran-pemikiran buruk Kasibun
terhadap Mariamin.Hingga kecemburuan itu membawa Suami istri itu dalam
pertengkaran yang serupa dan sering terjadi diantara keduanya.Dan Kasibun yang
bengis itu ketika bertemu dengan Mariamin segera menampar muka istrinya itu,tak
hanya menampar tetapi juga dipukul,dan disiksa.Kemudian pada malam harinya
Mariamin diusirnya dari tempat tidur, keluar dari kamar tidak boleh pintunya
sudah dikunci oleh Kasibun. Tak ada sepoongpun tikar yang ada diatas lantai
dalam kamar itu.Dan ketika suatra tangisan Mariamin terdengar oleh Kasibun,
maka Kasibun tak segan-segan menempeleng muka Mariamin.Mariami pun dianiaya oleh
suaminya yang bernama Kasibun.
Mariamin pun mengadukan
nasibnya ke kamtorpolisi.Karena dia tidak kuat lagi dengan sifat dan sisksaan
yang diberikan oleh Kasibun.Kemudian Kasibun didenda dua puluh lima rupiah dan
mereka diputuskan bercerai.
Setetelah bercerai
Mariamin pun pulang ke rumah kecil pinggir sungai yang berada di kota Sipirok
dengan membawa perasaan malu dengan membawa nama yang kurang baik dan menambah
kesengsaraan bagi dirinya sehingga Mariami meninggal dengan membawa semua
penderitaan yang dialaminya.